CERPEN "Blok 4"
CERPEN "Blok 4"
BLOK 4
Karya Erni Ristyanti
Hari-hari berlangsung seperti biasanya dan kegiatan perbaikan jalan itu tidak menunjukkan tanda mencapai akhir. Dan itu artinya aku harus terus berjalan memutar. Hingga pada suatu hari sepulangku dari kegiatan ekstrakurikular basket disekolah, aku melewati gedung tua itu, lalu kulihat ada sosok gadis kecil memakai pita rambut hijau tosca dengan model kuncrit ekor kuda sedang duduk didepan gedung tersebut seolah sedang memainkan sesuatu dengan riangnya. Karena penasaran, akupun mendekatinya dan menanyakan apa yang sedang dia lakukan. Tapi tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, ia hanya tertawa dan berlari-lari masuk kedalam gedung, seolah menginginkanku untuk mengikutinya. Dengan langkah ragu, aku berjalan perlahan sembari menyalakan flash di ponselku.
Sedetik kemudian, “GREP!” tanganku ditarik oleh gadis kecil tadi yang tiba-tiba muncul dihadapanku. Aku tidak tahu aku akan dibawa kemana, tarikannya semakin lama semakin terasa memaksa dan aku dapat merasakan kukunya menggores kulit pergelangan tanganku hingga meneteskan darah. Aku meringis kesakitan dan berusaha untuk berhenti dan melawan tarikan dan cengkramannya. Tapi sia-sia, seolah anak kecil ini memiliki kekuatan yang setara dengan orang dewasa. Setelah beberapa kali kucoba, ajaibnya, seketika cengkraman itupun terlepas seolah mengalah namun memberikan bekas di pergelangan tanganku. Aku menyalakan lagi flash di ponselku dan melihat apa yang kupijak karena kakiku seolah mendeteksi bahwa aku sedang berjalan diatas air.
“Ugh,” Aku langsung menutup mulut dan hidung seakan hampir muntah saat melihat genangan darah merah segar ada dibawah kakiku, sedetik kemudian tercium aroma anyir dari ruangan lain yang mengusik hidungku. Aku berjalan mundur dan mencari pintu keluar, tapi karena cahaya dari ponselku tidak dapat menyinari seluruh ruangan, tanpa sengaja punggungku menabrak ganggang pintu yang membuatku mengeliat menahan rasa sakit dan rasa mual yang terus menerus terasa semakin hebat. Akupun membuka pintu itu berharap mendapat udara segar. Mataku menyapu sekeliling, bersih. Ruangan ini jauh lebih bersih daripada tempat diluar lainnya. Sejauh yang dapat kulihat, aku hanya melihat piano tua berdebu ditengah ruangan dan, “TANGG!” Tiba-tiba piano itu berdentang dan samar-samar mulai nampak rok seragam biru dari balik piano. Aku melangkah mundur perlahan sebisa mungkin dan tidak menimbulkan suara. Tapi gadis dengan seragam putih biru itu tiba-tiba berjalan mendekat dan berbisik dari kejauhan, “Jangan pergi, tolong aku... dan teman-temanku... Tolong..”
Tapi aku tak mengerti apa maksudnya dan rasa takut semakin terasa menyelimutiku. Sesaat kemudian aku melihat sebuah bola mata menggelinding mendekatiku. Aku menahan nafas. Takut. Sesak. Kaki itu semakin lama semakin mendekatiku, aku dapat merasakan hawa dingin memenuhi ruangan ini. Hawa dingin yang semakin lama semakin menusuk tulang. Dan kulihat ia seolah berusaha untuk mengatakan sesuatu, tapi aku tak menghiraukannya dan lari sebisa mungkin menuju arah cahaya dan keluar secepat yang kubisa dari gedung itu. Kuatur nafas sejenak dan kulirik jam diponselku menunjukkan angka 17.50, aku pun bergegas mempercepat langkahku dan pulang kerumah. Ibuku yang melihatku langsung masuk kekamar dengan wajah pucat pasi dan tanpa memberikan salam terlihat heran dan langsung pergi ke kamarku.
“Ndri, kamu kenapa?”
“Eh
“Eh.. Nggak.. Nggak papa kok bu..”
“Nggak papa kok wajahnya takut gitu?”
“Iya itu
“Nggak papa kok wajahnya takut gitu?”
“Iya itu.. Tadi didepan pagar ada kecoa terbang terus tiba-tiba anjing blok sebelah lepas jd kaget bu hehe..”
“Yasudah
“Yasudah.. Ibu buatkan susu dulu ya biar kamu tenang. Kamu ganti baju dulu Ndri,”
“Iya bu
“Iya bu,”
Ibu hanya tersenyum singkat dan keluar dari kamarku. Aku berusaha menutupi kejadian sebenarnya karena aku sendiri tak yakin apakah itu benar terjadi atau hanya sebatas khayalanku saja yang terlalu sering membaca menonton DVD horror. Tapi saat aku melirik pergelangan tanganku yang sempat ditarik gadis tadi, aku melihat bekas tarikan memerah bercampur darah. Aku menyeka darah tersebut perlahan dengan perasaan bercampur aduk. Nyata? Khayalan? Entahlah. Akupun merebahkan tubuhku dikasur dan pikiranku melayang entah kemana membayangkan semua masalah disekolah yang terjadi dan ditambah dengan rasa penasaranku akan gadis tadi hingga akhirnya tanpa sadar aku terlelap.
“Krett.. Krett.. Krett..”
Indra pendengaranku menangkap suara dan membuatku terbangun. Aku berusaha memperjelas penglihatanku. Awalnya hanya kulihat segelas susu, “Mungkin susu yang Ibu buatkan tadi sebelumku terlelap..” Pikirku.
“Krett..”
Lagi-lagi suara yang membangunkanku itu semakin jelas terdengar, akupun mencari arah suara.
“Krett..”
“Lagi..” pikirku.
“Krett..”
Aku terdiam dan fokus mencari sumber suara yang kuyakini berasal dari jendela luar kamarku, apapun itu aku sama sekali tidak memiliki firasat yang baik.
“Krett.. Kak..”
Suara yang sangat terdengar jelas, seperti suara di ruang berpiano tadi. Sama. Aku masih ingat jelas bagaimana suaranya.
“Kak jangan pergi.. Kembali.. Tolong kami.. Tolong..”
Aku takut. Ketakutan yang sangat nyata. Aku menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhku berharap telingaku tidak menangkap suara-suara aneh lainnya.
“Kembali..”
Itu kata terakhir yang kudengar sampai akhirnya aku memaksakan kedua mataku untuk terpejam dan terbangun keesokan paginya. Aku melihat sekeliling, tidak ada yang aneh. Aku turun dari tempat tidur dan merapikan kasurku. Aku juga membawa segelas susu yang tidak sempat kuminum kemarin dan keluar kamar lalu bersiap untuk mandi.
***
Sabtu ini cerah, entah mengapa terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya yang selalu diselimuti awan mendung seolah kota ini selalu berduka dan sang mentari terlalu malu untuk menunjukkan dirinya. Setelah mandi, aku melihat keluargaku bersantai di ruang tengah.
“Indri, nanti sore tolong temani Ibu kerumah teman lama ibu ya.” Pintanya saat melihatku berjalan disebrang ruang tengah.
“Iya.. Dimana bu?”
“Blok 4,”
Aku menelan ludah seketika saat mendengar alamat yang barusan kudengar. “Blok 4?” Pikiranku melayang akan ingatan tadi malam. Tentang suara-suara yang mengusik rasa penasaran dan ketakutanku secara bersamaan.
Sore akhirnya tiba, dan Ibu menyuruhku untuk mempercepat mandi dan ganti bajuku. Setelah itu kami berangkat menuju blok 4. Aku terus memperhatikan setiap rumah, berharap rumah yang akan Ibu kunjungi ada jauh dari gedung yang membuatku takut. Tapi harapanku seketika sirna saat aku melihat Ibu tiba-tiba berhenti di rumah bercat biru pas dengan sebelah gedung tua itu. Tak lama kemudian, teman Ibu keluar dan mempersilahkan kami masuk. Setelah beberapa menit didalam, aku tidak bisa untuk berhenti menatap gedung sebelah. Pikiranku berkecamuk. Disatu sisi aku sangat ingin mengungkap apa maksud dari gadis tersebut. Tapi sisi lainnya aku sangat takut. Akhirnya aku memutuskan untuk mengirimkan pesan teks kepada teman sebangkuku dan menceritakan apa yang terjadi padaku yang berhubungan dengan gedung sebelah.
Teman sebangkuku adalah seseorang yang sangat gila misteri. Dan tak lama kemudian, muncul sosok bertubuh tinggi tegap dengan kaos hitam polos. Ia datang, dan akupun pamit kepada Ibu dengan alasan keluar untuk melanjutkan mengerjakan tugas dengan Pandu.
Kami keluar rumah dan berhenti beberapa saat tepat didepan gedung tersebut.
“Yakin masuk?” Tanyaku ragu.
“Kenapa? Kamu nggak penasaran maksudnya menyuruhmu datang kembali? Siapa tahu dia memang butuh bantuan.. Masa atlet basket takut hantu huu..” Ejek Pandu sambil melangkahkan kakinya memasuki gedung.
Aku hanya bisa menghela nafas pasrah dan mengikuti langkahnya. Semakin dalam, pencahayaan semakin berkurang dan perasaan takutku semakin menjadi-jadi. Aku memegang ujung baju Pandu dengan erat saat bau anyir mulai tercium lagi. Tiba-tiba langkah Pandu berhenti,
“Kenapa?” Tanyaku lirih.
“Depan..” Jawabnya singkat.
Sosok anak kecil berseragam putih biru dengan pita rambut hijau tosca lagi-lagi muncul. Tapi kini ia sedang duduk di anak tangga sambil menangis. Kami berjalan mendekat perlahan. Bertahan diantara rasa takut dan penasaran.
“Kamu siapa?” Tanya Pandu.
“...”
“Dik... Kamu siapa? Kenapa disini?”
“Aku... Ella...”
“Kamu kenapa?”
“Takut..”
“Takut? Kenapa?”
“Aku diburu.. Semua temanku dibunuh..”
Kami terhenyak. Aku tak habis pikir, kenyataankah? Bualankah?
“Tolong aku..”
Kami bingung.
“Jangan pergi lagi...”
“Ikut aku..”
Haruskah kami mengikutinya?
Gadis itu menyeret langkahnya menuju sebuah ruangan yang tiba-tiba berubah menjadi ruangan bercat putih bersih dengan gambar presiden dan wakilnya serta burung garuda ditengah-tengah mereka. Persis seperti ruang kelas lengkap dengan siswa-siswanya. Ramai. Sangat ramai layaknya kelas pada umumnya. Dan kami melihat gadis dengan pita rambut itu sedang bercanda tawa dengan teman seusianya di ruangan ini. Namun ia terlihat berbeda tidak seperti saat ia bertemu kami.Pakaiannya lebih rapi dan terlihat memakai kacamata. Cantik. Cantik sekali. Semuanya terlihat bahagia dengan keadaan sekitarnya. Seolah semua akan selalu baik-baik saja.
Tapi semua berubah saat istirahat tiba, suara gelak tawa itu berubah menjadi teriakan histeris ketakutan. Dan aku dapat melihat ada gadis dengan jubah hitam memasuki tiap-tiap kelas dan membunuh semua siswa dan gurunya hanya dengan sebuah pisau.
“CLEPP” Pisau itu menembus mulus dada dan perut tiap siswa dan itu dilakukan tepat didepan siswa yang lainnya.
Semua siswa berhamburan keluar kelas dan lari menuju gerbang sekolah. Tapi nihil, gerbang sekolah yang entah sejak kapan sudah dipenuhi dengan gembok dan lapangan sekolah dipenuhi oleh pecahan kaca. Mayat penjaga sekolah dan beberapa guru juga terlihat disana
Gadis misterius itu terus menerus membunuh sambil tertawa. Seolah membunuh dan melihat darah adalah hal yang mampu membuatnya bahagia. Ia mengambil mayat anak laki-laki dan menyayat-nyayat tangannya lalu mengeluarkan darahnya dengan riang seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru dari ayahnya.
Sesaat kemudian ruangan berubah menjadi gelap. Dan kurasa kami seperti mengalami teleportasi lagi ke ruangan lain dan waktu yang lain. Kali ini ruangan pengap. Sangat pengap. Butuh beberapa menit untukku agar bisa menyesuaikan mata dengan sekitar. Kulihat disini dipenuhi oleh anak-anak yang tersisa dan mungkin masih beruntung bisa hidup. Satu hari. Dua hari. Ruangan ini seolah menjadi penjara yang cepat atau lambat akan membunuh mereka. Entah itu mati kelaparan, dehidrasi, ataupun mati karena mencoba keluar dan langsung terbunuh oleh gadis gila berpisau itu. Penampilan merekapun juga mulai berubah. Yang awalnya dari rapi. Bersih. Kini nampak tak jauh beda dengan orang tak terurus.
Aku dan Pandu menatap anak-anak yang tersisa. Entah apa yang telah mereka perbuat hingga mengalami kejadian seperti ini. Adilkah? Anak-anak yang berniat menuntut ilmu dan merasakan bangku pendidikan malah mengalami kejadian sadis yang akan merampas paksa masa depan mereka. Selain itu dimana orang tua mereka? Mengapa tidak mencari anaknya yang sudah dua hari tidak pulang? Sunyi. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Hanya saling menatap harap-harap cemas.
“Tap... Tap...”
Terdengar suara langkah kaki mendekati ruangan ini. Langkah kaki yang terdengar semakin mendekat. Perlahan tapi pasti. Hingga akhirnya,
“DUG DUG DUG!”
Suara ketukan pintu sontak membuat semua orang termasuk kami kaget dan melihat ke pintu yang sudah tertutup rapat sejak dua hari yang lalu itu. Diam. Tidak satupun yang berani berpindah tempat. Sekalipun itu hanya 1cm pun dari tempat mereka.
“DUG DUG DUG!!”
Ketukan itu semakin keras seolah marah karena ketukan sebelumnya tidak mendapatkan jawaban.
“DUG DUG DUG!! BRAKK!”
Pintu didobrak paksa hingga terbuka lebar. Kosong. Tidak ada seorangpun didepan pintu. Seolah sebelumnya tidak ada manusia yang mengetuk dan mendobrak pintu. Semua orang masih terdiam dan bersembunyi dalam kegelapan. Hingga beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki dari luar yang masuk ke ruangan ini. Aroma parfum leci mulai tercium. Rambut coklatnya yang bergelombang bergerak diiringi langkah kakinya. Jubah hitamnya mulai terlihat.
“Hm...” Gumamnya.
Beberapa detik kemudian sepertiya ia memutuskan untuk pergi keluar. Tapi,
“Tes...”
Suara jatuhnya keringat dari salah seorang di ruangan ini terdengar begitu keras dan bergema. Dan itu membuat gadis tadi mengurungkan niatnya untuk keluar dan mencari mangsa lainnya.
“Jangan sembunyi anak manis... Ayo keluar... Kalian yang terakhir hihi...”
Ia menutup pintu dan ia berjalan menuju sisi ruangan dan memencet tuts piano dengan suara yang tidak fals. “Jangan berharap ada yang mencari kalian. Aku menyuruh kepala sekolah untuk memberitahukan kepada orang tua kalian adanya kegiatan sekolah selama seminggu hihi...” Ia terus berjalan. Hingga matanya menangkap sosok bertubuh gemuk di pojok ruangan. Ia berlari kecil mendekatinya seolah keriangan menemukan mangsanya.
“Hai... Jangan takut...” Ucapnya sambil mencolek pipi anak itu.
Ia mangambil pisau dan menjilati pinggirnya. Anak itu berontak. Mencoba untuk kabur. Tapi gadis itu takkan membiarkannya pergi.
“Diam! Kalian semua yang ada diruangan ini. Hadapilah! Ini kenyataan kalian! Ini semua salah kalian! Jika kalian menurut, ini tidaklah sakit. Aku akan melakukannya dengan cepat...” Ucapnya dengan ekspresi yang tidak biasa.
Gila! Apa-apaan dia? Apakah nyawa manusia sebercanda itu? Semudah itu ia membunuh dengan tenang? Apa dia tidak mempunyai penyesalan?
Pikiranku memberontak. Aku tidak terima dengannya. Aku juga bisa merasakan Pandu menahan emosinya. Karena apabila kami menahannya, itu tidak akan bisa. Karena kami seolah berasal dari dimensi yang lain. Waktu yang lain. Dan kondisi yang lain.
“Slashh!” Ia melempar beberapa pisau kearah berbeda dan ajaibnya semua pisau itu menancap pada 4 siswa diruangan ini.
“Bruk!” Tubuh mereka jatuh dan darah mengalir dengan cepat membasahi lantai ini.
Sisa 2 orang. Setidaknya saat ini. Bau anyir ini tercium lagi. Aku menutup hidung dan mulutku.Merasa akan muntah.
Gadis itu mendekati anak yang duduk dengan keringat dingin terlihat mengalir di pelipisnya.
“Ooohh...Jangan takut. Semua akan berlangsung cepat...” Gadis itu mengatakannya dengan enteng seolah tanpa beban dan dosa. Gadis itu bersiap akan menghunuskan pisaunya tapi tiba-tiba anak bernama Ella itu berlari kedepan anak tadi sambil berusaha melindungi temannya.
“Jangan ganggu! Kau pikir kau siapa seenaknya membunuh? Kau pikir kau malaikat pencabut nyawa!?” Ucapnya lantang.
“PLAKK!” Gadis itu menampar Ella hingga kacamatanya terlepas. Lalu dengan cepat membunuh teman dibelakangnya serta mengunci tangan Ella seolah semua hanya dilakukan dalam satu gerakan.
“Jika kalian semua tidak menganggapku sebagai ‘yang tidak ada’ aku pasti tidak akan melakukan ini!” Ucapnya.
Aku termenung, ‘yang tidak ada’? Apa maksudnya? Tapi seolah dia tidak mau memberikan mereka kesempatan untuk berfikir, ia langsung menancapkan pisaunya di kelopak mata Ella dan mengambil bola matanya seolah-olah sedang menggali harta karun di padang pasir. Kejam! Tak nampak sama sekali perbuatannya seperti manusia normal.
“ARGHH!!” Rintihan Ella terdengar menggema bersamaan dengan tubuhnya yang akan ambruk jika tidak ditahan oleh anak dibelakangnya. Kelopaknya memperlihatkan syaraf-syarafnya berkedut dan mengalirkan darah merah segar.
“Apa-apaan kau ini? Apa yang kau maksud bahwa ini adalah salah kami semua? Aku bahkan tidak tahu kau siapa heh!” Bentak anak dibelakang Ella dengan lantang.
Sambil menggoreskan pisaunya dipipi anak itu, gadis itu menjawab perlahan, “Tidakkah kau mengerti maksudnya dianggap ‘yang tidak ada’? Ritual sebelum ini yang membuatku menjadi tumbalnya. TIDAKKAH KAU INGAT HAH!?” Ia kembali membentak dan menggores-gores pipi anak itu. Seakan tidak mempedulikan ekspresinya yang mulai kesakitan. Gadis itu berjalan maju ke tempat piano berada sambil memainkan lagu Moonlight Sonata-Beethoven.
“8 bulan yang lalu tepatnya sebulan sebelum tahunku menghadapi Ujian Nasional, terjadi suatu kejadian yang tidak dijelaskan oleh guru-guru dan mengharuskan sekolah ini memberikan satu tumbal untuk dianggap sebagai ‘yang tidak ada’. Untuk mensukseskannya, semua warga sekolah harus berpartisipasi tanpa kecuali. Dan tanpa penolakan dari pihak yang dijadikan tumbal. Bila aku menolak, aku dikeluarkan. Bila ada yang menganggapku ‘ada’, sekolah ini gagal dalam Ujian Nasional dan hancur. Seakan ada sihir iblis yang menyelimuti gedung ini dan akan jinak apabila diberikan tumbal. Lucu memang jika aku membalas dendam pada satu sekolah ini. Tapi kalian juga disuruh untuk berpartisipasi! Tak ada alasan bagiku membebaskan kalian. Tiap bulan hingga pengambilan ijazah aku masih saja dianggap ‘yang tidak ada’. Semua orang mengacuhkanku seakan aku hanyalah angin lalu. Sesaat setelah aku keluar dari sekolah ini, aku bertemu dengan seseorang bahwa sekolah ini memang mengadakan perjanjian dengan iblis agar diberikan tumbal tiap tahunnya. Jika tidak nama sekolah ini secara ghaib akan hilang. Perjanjian ini akan berhenti apabila penghuni sekolah ini tiada. Setelah itu aku memutuskan untuk mengumpulkan beberapa orang tahun sebelumnya untuk melakukan apa yang kami lakukan bersama beberapa hari ini. Seharusnya kalian berterimakasih karena setelah ini tidak ada tumbal yang menerima tekanan berat! Tahukah kau rasanya diacuhkan? Akan menghadapi ujian yang bahkan banyak materi tidak kukuasai dan tidak bisa bertanya pada orang lain? Dan tekanan lainnya. Bisa saja tahunmu nanti itu kau gadis manis...” Ucapnya panjang lebar lalu mengecup pipi Ella dan menggoresnya dengan pisau yang sudah berlumuran darah.
Aku menatap gadis itu tidak percaya dengan penuturan katanya. Sebagai ganti tumbal tiap tahun dia mengorbankan satu sekolah? Omong kosong macam apa ini. Ini sama saja ia tidak mengakui bahwa dialah pembunuh berdarah dingin! Setelah itu ia menusuk tepat dijantung kedua gadis tadi dan pergi keluar. Beberapa hari kemudian diadakan pemakaman massal yang diiringi dengan isak tangis orang tua yang tidak terima anaknya dibunuh seperti itu. Para polisi tidak bisa menemukan pelakunya dan kasus ditutup begitu saja setelah 3 tahun mengalami jalan buntu. Kemudian aku merasakan teleportasi menuju sebuah tempat yang kukenal. Ini... Suasana blok 4 setahun yang lalu atau mungkin tahun ini! Aku dan Pandu menatap Ella dengan ekspresi penuh pertanyaan. Tapi Ella hanya mengangkat tangannya menunujuk sebuah rumah dan kemudian, keluar gadis pembunuh tadi dari rumah tersebut.
“Ia pembunuh yang selama ini dicari polisi. Polisi gagal menemukannya karena sesaat setelah pergi dari sekolah ia langsung pindah ke luar negri dan menetap disana selama tiga tahun. Kemudian baru-baru ini ia pindah lagi ke sini seolah memastikan apakah ada kelanjutan kasus itu atau tidak...” Ucap Ella. “Aku yang sekarang tidak akan bisa memberitakukan kebenaran pada polisi karena mereka hanya akan takut apabila melihatku.” Sambungnya.
“Lalu kau ingin kami yang mengatakan pada polisi? Kami tidak punya bukti selain ingatan kami Ella...” Ucapku lirih.
“Aku mempunyai rekaman cctv yang kupungut setelah dibuang oleh gadis itu. Berikan pada polisi dan katakan agar segera menangkap gadis itu sebelum ia kabur lagi.” Ucapnya sambil memberikan sebuah rekaman cctv sekolah beberapa tahun yang lalu.
Segalanya memudar dan kembali sepeti sediakala. Aku dan Pandu bergegas kembali kerumah teman ibuku sambil sesekali memandangi rumah tempat gadis dalam pengelihatan kami tadi keluar. Dan benar saja! Tak lama kemudian gadis itu keluar sambil membawa anjingnya jalan-jalan dengan wajah polos seakan ia tidak pernah melakukan apapun. Aku dan Pandu saling bertatapan kemudian, “Tante kami permisi boleh keluar sebentar lagi? Ada tugas yang harus diambil dan aku baru ingat te hehe. Pinjam Indri lagi ya..” Ucap Pandu dengan cengirannya yang khas. “Iya jangan terlalu malam ya.” Jawab ibuku.
Dengan cepat Pandu mengambil motornya dan kami bergegas ke kantor polisi. Tentu kami tadi tidak bisa bilang sejujurnya karena penjelasannya nanti akan memakan waktu berabad-abad. Kemudian setelah sampai, kami mengutarakan maksud kami dan menyerahkan rekaman cctv itu beserta cerita kami yang tampaknya hanya beberapa yang mempercayainya. Tapi tak apa, tiga hari setelah kami memberikan rekaman itu, gadis itu ditangkap dengan bukti yang kuat. Aku melihat ekspresinya yang polos berubah menjadi pasrah. Tapi tidak ada sedikitpun penyesalan disana. Nampak seperti pembunuh berdarah dingin yang sesungguhnya huh.
“Srett...”
Aku merasa ujung bawah tali bajuku ada yang menarik dan akupun menoleh dan melihat Ella berdiri dibelakangku.
“Terimakasih kak..” Ucapnya sambil tersenyum kemudian menghilang bersamaan dengan mobil polisi yang pergi semakin menjauhi tempat ini.
Angin berhembus semilir. Aku menggenggam sekotak susu coklat sembari berjalan perlahan menikmati gerakan angin yang seolah sedang memainkan rok abu-abuku. Dan lagi-lagi aku melewati jalan sepi ini bersama segerombolan awan yang nampak mulai terbentuk. Sudah beberapa hari ini ada kegiatan proyek perbaikan jalan dan dijalur menuju kerumahku ditutup. Hal itu mengharuskanku untuk berjalan memutar beberapa blok lebih jauh daripada jalur pulangku yang seharusnya. Aku mempercepat langkahku saat melewati blok 4, tepatnya gedung tua disebelah bangunan lab sekolah, entah mengapa bulu kudukku selalu merinding apabila melewati bangunan berlumut dan tidak terurus ini. Hingga akhirnya setelah setengah jam perjalanan memutar itu aku tiba dirumah dan langsung merebahkan diri dikasur dan terlelap.
***
Profil Penulis:
Author : Erni Ristyanti
Sekolah : SMAN 10 Surabaya
0 Response to "CERPEN "Blok 4""
Post a Comment