CERPEN "Ayah Karya Agustin Dwi Pertiwi" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Ayah Karya Agustin Dwi Pertiwi"

CERPEN "Ayah Karya Agustin Dwi Pertiwi"
AYAH
Karya Agustin Dwi Pertiwi

Rintik-rintik hujan yang membasahi bumi. Seolah mengerti tentang isi hati ini, yang sedang dilanda kegalauan. Angin yang merasuk tubuh ini, serasa hingga menusuk kalbu. Membuatku ingin menggoreskan pena diselembar kertas.

Indah memang bila ku ingat masa itu. Masa dimana aku masih melihat senyummu. Senyummu yang membuatku bahagia Bahagia yang sangat teramat bahagia. Tapi waktu terus berputar tergantikan oleh hari. Dan tak dapat berhenti, sampai ada yang menghentikannya.

Kini senyummu perlahan memudar. Berubah menjadi kecemasan bagiku. Ya begitulah sebuah puisi yang ku buat saat hujan kemarin. Aku senang menulis puisi, memang puisiku sangat biasa dan sederhana, tapi menurutku dari pada rasa ini terpendam dalam hati, aku memilih menulisnya menjadi puisi yang pasti menurutku sendiri semua puisi buatanku bagus. Akhir-akhir ini, aku merasa sedih karena ayah sakit. Entah obat apa yang mampu menyembuhkannya. Andai aku bisa mencabutnya, pasti aku akan mencabut sekuat tenaga, terus aku injek-injek sampai hancur lebur supaya tak ada lagi yang sakit gara-gara penyakit itu. Hari itu sudah mulai larut.

‘’Nak, kenapa ayahmu belum pulang-pulang juga? Ibu khawatir sekali kalau ada apa-apa dengan ayahmu.’’
‘’Tenang saja bu, mungkin ayah masih dijalan. Sebentar lagi juga pasti ayah akan sampai. Apa sebaiknya ayah aku susul bu?’’ duduk di kursi ruang tamu  melihat ibu mondar-mandir dengan hati yang gelisah.
‘’Nah, itu dia ayah sudah pulang…’’ Sambil menengok pintu depan dari kejauhan, ibu langsung menghampiri ayah yang berjalan sempoyongan.
‘’Nak, tolong cepat buatkan ayahmu teh hangat.’’
‘’Iya buu… ‘’ Aku langsung ke dapur membuatkan ayah teh hangat. Sementara ibu mendampingi ayah di kamar.
‘’Pak, kalau bapak sakit, cepat berobat biar cepat sembuh.’’
‘’Iya bu, besok biar bapak ke dokter.’’ Berbaring di tempat tidur dengan memakai selimut dobel. Keesokan harinya ayah libur tidak bekerja. Tiba-tiba ayah berteriak memanggil ibu.
‘’Bu,buu.. cepat kesini!’’
‘’Iya pak, ada apa pagi-pagi udah teriak panggil ibu?’’ Ibu berlari menuju kamar ayah.
‘’Masyaallahh pak, kenapa tangan bapak ada benjolan?’’ Ibu terkejut melihat tangan ayah.  Ayah hanya menangis merintih kesakitan yang berbaring di tempat tidur.
‘’Cepat pak, ayo ibu antar ke dokter sekarang!’’ Sesampainya disana ayah diperiksa oleh dokter. Ternyata benjolan itu hanyalah daging tumbuh, tapi jika lama-lama tidak diobati bisa menyebabkan kanker.

Semenjak itulah ayah tidak terlalu bekerja dengan berat. Aku merasa sedih sekali melihat keadaan ayah sekarang. Ayah harus bekerja dengan rasa sakitnya itu. Mungkin itu semua adalah cobaan dari Tuhan, agar ayah tidak terus-terusan bekerja sampai tidak mengenal lelah, karna kesehatan itu mahal harganya
Jujur aku sendiri sangat bangga dengan semangat ayah, bagaimana tidak? dokter telah memvonis ayah tidak akan sembuh walaupun obat habis sebakul dan uang habis serumah. Tapi ayah masih bersemangat melihatku untuk bahagia. Siapa to, ayah yang tega melihat anaknya hidup dalam kesengsaraan. Pasti semua ayah ingin anaknya hidup sukses dimasa depan. Ayah masih ingin menghidupi keluarga, walaupun harus bekerja dengan rasa sakit yang diderita ayah selama ini. Tak sengaja aku melihat ayah sedang bekerja, rasanya hatiku tersentuh sekali melihat ayah bekerja. Aku tak tega melihat ayah bekerja keras hanya untuk putrinya tercinta. Dan saat itu aku hanya bisa lari ke kamar dan menangis, aku selalu mencoba untuk tidak menangis di hadapannya. Ayah betapa sabarnya engkau menghadapi kemelut hidup ini.

Setiap hari ayah selalu ditemai oleh Ibu, ibu sangat sayang pada ayah, ibu selalu ingin bersama ayah walaupun ibu super sibuk tapi, ibu selalu mengontrol ayah tiap jam. Sebenarnya aku juga ingin menemani ayah, tapi aku harus sekolah. Hari-hariku terasa begini-begini saja, malah aku sering mengeluarkan air mata, tapi aku sangat bersyukur karena di saat seperti ini teman-temanku selalu berada di sampingku dan menghiburku. Terima kasih teman atas hadirmu.

Setiap pulang sekolah ayah selalu menanyai bagaimana keadaanku di sekolah, aku justru terharu mendengarnya, karena ayah malah menanyaiku yang keadaan jasmaniku baik-baik saja, seharusnya aku yang bertanya bagaimana keadaannya. Memang Ayah sangat sayang dan care padaku. Ada satu hal yang selalu membuatku menangis bila mengingat kata-kata itu. 

“Bu, udah ibu gak usah kemo, ayah sehat kok ibu lihat ini,” mencoba berdiri tegak dengan sempoyongan.
“Bu lebih baik uang itu kita tabung disimpan buat kuliah Kakak. Ayah akan lebih bahagia kalau Kakak bahagia. Ayah gak apa-apa Bu.” ketika itu Ibu dan Aku hanya bisa menangis dan tidak bisa lagi menyembunyikan air mata ini. 

Dan saat itu pula aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku pasti bisa membuat ayah dan ibu bahagia.
Seiring dengan berjalannya waktu Allah memberikan Anugerah terhebat untuk kami, lambat laun ayah membaik, ya walaupun benjolan itu masih ada. Kini ayah bisa tersenyum ceria lagi, bisa menjadi ayah yang tidak penah nangis, ayah terlihat bahagia dan senang bisa terbebas dari penyakitnya itu. Di setiap sujudku tiada henti aku bersyukur atas apa yang Allah berikan padaku dan aku selalu berdoa agar penyakit itu benar-benar hilang dan sembuh total.

Ayah darimu ku temukan semangat. Semangat untuk menggapai kebahagiaan. Ayah darimu aku belajar. Belajar bagaimana sulitnya bersabar. Ayah, darimu aku tahu, betapa sulitnya menahan air mata. Ayah, darimu aku yakin. Bahwa Allah sangat sayang pada kita. Ayah sembuhlah, sembuh aku sayang ayah.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Ayah Karya Agustin Dwi Pertiwi""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel