CERPEN "Alone Karya Linggom Nababan"
CERPEN "Alone Karya Linggom Nababan"
Selama dalam perjalanan, kejadian tadi selalu terulang dalam pikiranku. Entah apa yang aku mimpikan tadi malam sehingga ini harus terjadi padaku.
Perasaan bersalah selalu bernaung dan menghantuiku. Untuk yang kedua kalinya aku membuat orangtuku menangis karena perilaku bodohku.
Entah apa yang terjadi dan siapa yang memulainya. Sudah beberapa bulan aku dan adikku saling tidak menegur. Tidak peduli satu sama lain. Bertengkar. Tapi yang kutahu dia tidak menghargaiku sama sekali. Aku sangat hina di matanya. Ingin sekali aku membunuhnya, tapi hati ini yang tak tea melihatnya. Berkali – kali ia tidak menurut pada apa yang kuperintahkan padanya. Hingga pada akhirnya aku mencapai puncak emosiku. Aku sudah kehabisan kata maaf pada dirinya dan memutuskan untuk tidak menganggapnya sebagai adikku lagi.
Pagi itu, ayah menasehati kami berdua. Ia mengatakan kalau rasa sayang kakak dengan adik itu sama seperti rasa sayang ayah pada anaknya. Begitu juga rasa hormat adik pada kakaknya itu harus sama seperti rasa hormatnya pada ayahnya. Ayah juga menyuruhnya untuk meminta maaf terlebih dahulu padaku dan menjabat tanganku. Tapi aku segera menjauhkan tanganku darinya. Aku merasa kalau aku tidak akan pernah memaafkannya lagi. Lebih baik aku hidup tanpa adik daripada aku punya adik seperti dia.
Ayah melihat itu semua sangat sedih. Dia beranggapan kalau aku tak menghargainya.
“Selama ini aku selalu membangga – banggakanmu. Tapi seperti inikah kau memperlakukanku?” katanya. Bersamaan dengan perkataannya itu, kudengar juga suaranya seperti menangis. Ada rasa penyesalan dalam dirinya melihat perilakuku. Ia merasa gagal dalam mendidik. Merasa tak berguna sebagai ayah.
Tahukah? Hatiku sangat hancur melihat semua kejadian itu. Bagaikan gedung – gedung korban bom Bali, seperti itulah rasanya hati ini. Aku serasa tak mempu menahan diri. Tapi aku berusaha menyembunyikan kesedihan hatiku yang mendalam. Aku malu jika mereka tahu aku menangis. Malu jika anak laki – laki menangis.
Brraaakkk . . . . . tiba – tiba motor yang kutunggangi menabrak sebuah truk besar. Dalam sekejap darah langsung bersimbah di aspal bagaikan air yang baru tumpah dari ember. Aku tak merasaka apapun selain kesedihan hati yang tak pernah lepas dari otakku. Lama – kelamaan pandanganku semakin kabur dan akhirnya aku pingsan. Setelah itu aku tak ingat apa – apa lagi sampai akhirnya aku tersadar.
Saat aku terjaga, seorang suster yang sedang memeriksaku langsung keluar. Sepertinya ia akan memanggil dokter. Tak lama kemudian dokter datang. Ia menceritakan semua yang terjadi padaku.ia juga bilang kalau aku ada di ruang ICU. Tentang siapa yang membawaku ke rumah sakit. Ia juga bertanya padaku tentang keluargaku. Tapi, aku tak memberitahukannya. Aku pura – pura tak ingat.
Setelah merasa puas menanyaiku, dokter itu keluar digantikan suster yang ingin memeriksaku lagi.
“Boleh aku pinjam Hp-nya, Suster?” aku agak menggeser posisiku
“Ya, tentu. Silahkan” dia menyodorkan sebuah telepon genggam merk Samsung padaku. Aku menerimanya dan segera menelepon seseorang yang aku kasihi. Seorang yang seakan menjadi semangat hidupku selama ini. Selain aku mengucapkan selamat tinggal padanya, aku juga memintanya untuk tidak memberitahukan identitasku pada siapapun. Dia mengiyakan.
Setelah selesai, aku mengetik sebuah pesan di telepon genggam suster itu. ‘GUNAKAN TUBUHKU UNTUK KEPERLUAN PENGETAHUAN. ADA BUKU DI TASKU’ begitulah isi pesan yang kutulis pada si suster. Setelah membaca pesan itu, si suster langsung keluar. Saat itulah aku mulai beraksi. Aku mencabut infus dan peralatan lainnya dariku. Tak lama kemudian padanganku mulai meredup. Seiring dengan itu, ada bunyi ‘tiiit....tiiiit.... tiiiiiiiiiiit........’ melepaskanku dari dunia ini. Aku mati tanpa diketahui oleh siapapun dan tanpa bekas apapun.
Profil Penulis:
Nama saya Linggom Andreas Nababan
Tinggal di Muara Bulian, Jambi
0 Response to "CERPEN "Alone Karya Linggom Nababan""
Post a Comment