CERPEN "Alkisah dari Punggung yang Berlubang" - KUMPULAN CERPEN INDONESIA -->

CERPEN "Alkisah dari Punggung yang Berlubang"

CERPEN "Alkisah dari Punggung yang Berlubang"
ALKISAH DARI PUNGGUNG YANG BERLUBANG (II)
Karya Harni Haryati

Sampai suatu ketika, purnama bersinar penuh di angkasa. Rasa penasaran menyelinap ke rongga dada. Aku berpura-pura tidur ketika Ibu memeriksaku di kamar. Sempat kurasakan kecupan sayang di keningku sebelum Ibu berangkat.

Lalu, segera aku mengenakan mantel cokelatku dan memakai tudungnya agar tidak mudah dikenali.

Kaki ini berjalan perlahan mengikuti derap langkah Ibu. Mengendap-endap. Sebisa mungkin tak menimbulkan suara. Sesekali aku bersembunyi di balik pepohonan atau rumah warga, takut kalau-kalau Ibu menoleh dan memergokiku tengah membuntutinya.

Ternyata dugaanku tepat. Ibu bukan bekerja sebagai wanita penghibur. Sebab begitu tiba di kuburan, Ibu menanggalkan pakaiannya satu-satu. Tangan Ibu bergerak menarik paku dari dalam kepalanya.

Seketika wajahnya berubah menyeramkan. Bola matanya menonjol keluar, pipi cekung ke dalam, rambut menjuntai kusut masai. Dan jangan lupakan punggung yang berlubang meneteskan lendir berbau anyir serta geliat makhluk putih kecil.

Ia berjalan tak lagi menapak di tanah. Gaun panjang terusan putihnya melayang-layang bak kain yang diterbangkan angin dari tali jemuran.

Ibu terbang di udara menghampiri seorang pedagang sate yang berjualan sendirian.

"Su... su.. sundel bolong!!!" teriak tukang sate ketakutan hingga terkencing-kencing di celana.
"Hihihihihi" Ibu tertawa nyaring. Tawa khas hantu perempuan. Bulu romaku serentak bangun semua mendengarnya. Mengerikan.

Seketika tukang sate terkapar di tanah. Pingsan. Di saat itulah, aku melihat Ibu mengambil sate dari dalam gerobak dan membawa besertanya.

Aku terpaku begitu melihat sosok Ibu lenyap bagai asap ditiup angin dalam sekejap. Badan ini lemas. Aku jatuh berlutut. Bulir-bulir bening berlomba-lomba menyusuri pipi.

Saat itu aku terbayang adegan film 'Suzanna' yang pernah kutonton di layar tancap. Si sundel bolong yang selalu mengganggu penjaja makanan di kala malam itu bukanlah cerita fiksi semata.

Kau tidak pernah tahu, kalau sesungguhnya sundel bolong menakut-nakuti dan mengambil makanan bukan untuk kesenangan dirinya saja. Namun justru untuk menghidupi keluarga di rumah.

Bahwa benar Ibuku memiliki lubang di punggungnya. Tapi aku tetap menyayanginya. Mencintainya sepenuh hati. Tak peduli meski sebenarnya Ibu jelmaan sundel bolong sekali pun.

Jati diri Ibu tak pernah merubah pandanganku terhadapnya. Bagiku, Ibu tetaplah Ibu. Orang yang sangat kukasihi.

Aku bergegas pulang ke rumah sebelum Ibu mendahuluiku. Akan lebih baik kalau aku tidak menyinggung perihal ini. Sudah cukup gunjingan mereka yang Ibu hadapi. Sebagai anak, aku akan selalu menggenggam erat tangannya. Memberi kekuatan pada dirinya. Berjalan beriringan menantang kerasnya dunia.

-Rampung-

Bekasi, 230917
#Haryati

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "CERPEN "Alkisah dari Punggung yang Berlubang""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel